Minggu, 10 Mei 2020

Surat Cinta Buat Cade Engkakal

Pertemanan semasa kanak-kanak hingga menjadi seorang pahlawan bagi diri maupun orang lain terlahir dengan ikatan bathin mendekati sempurna. Kanak-Kanak kelahiran semasa Orde Baru ini bergandengan tangan dalam persaudaraan secara harmoni dalam kenangan.



Usia tua semangat muda bahkan kami tertalu muda untuk dikatakan tua, seolah-olah raga bermimpi dalam uluran waktu tak berhenti  berlari berpencar tak punya cinta. Kalau pun ada , itu hanya sebatas kosa kata saja.



Seribu cerita, bahasaku kalimat untuk mu...bara cerita tidak menjadi abu, kami bukan bahasa kalbu. Kurikulum berlembar kisah nyata, sakit dirasa sakit, senang terasa gembira, menangis bertetes makna, suka cita penuh pengharapan.


Surat Cinta Buat Cade Engkakal, surat tersirat tertulis PORINGU BEDOPAT. Surat terbuka kepada mereka yang punya cerita. 100 persen becutak 100 persen kisah, dan seratus persen lintas generasi.
yang berkolaborasi sosial sebagai satu saudara. Surat Cinta Buat Cade Engkakal  Poringu Bedopat bermula dari rasa kerinduan untuk bertemu, berbisik untuk didengar berkata untuk berencana, berkehendak untuk bertemu. Dengan beberapa teman, kami menggagas pertemuan membahas bahasa Poringu Bedopat, walaupun tidak mudah layaknya sebuah drama...ada yang berkarakter Protagonis, Antogonis, dan Tirtagonis atas rencana ini. Lapangkan dada luaskan kehendak menuai kebaikan. Bukan susah tetapi payah untuk menulis surat cade Engkakal Poringu Bedopat. Mudah dengan kata-kata, payah membahasakannya.


Surat Cinta Untuk Cade Engkakal  akhirnya bukan mimpi.Surat ini terbaca khalayak terkabar kegembiraan, kami rayakan dengan suka cita pada tutup tahun 2019 (31 Desember 2019) sebagai puncaknya, kami rayakan EMPURAI BERSAMA pada Tahun Baru 2020 di Riam Karot Sanggau.


Surat Cinta Untuk Cade Engkakal akan kami terbitkan pada tahun 2023, kami telah bersepakat untuk rencana ini.
Terima Kasih kepada Cade Engkakal serta simpatisan yang telah berkontribusi dalam acara Poringu Bedopat ini. Secara khusus kami haturkan terima kasih kepada Mgr. Agustinus Agus, sebagai sesepuh Cade Engkakal sebagai Pastor Paroki dikala itu. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bang Paolus Hadi, Om Yak, Bang Lesandri, Om Andoi, Bang Frans Kimin, Om Siwar, dan abang-abang dan Om-Om atas waktu berbagi kisah disini. *Oyent Andreas.




Rabu, 04 Oktober 2017

Perayaaan Santo Fransiskus Assisi Pelindung Persekolahan Katolik Nyarumkop



Dengan yel-yel Barage Diri’Bisa segenap tenaga pendidik, non kependidkan, dan peserta didik Persekolahan Katolik Nyarumkop beramai-ramai  melakukan senam masal di halaman sepak bola  PKN memeriahkan  dan merayakan semangat teladan Santo Fransiskus Assisi Pelindung persekolahan ini. 




Mengambil tema “ Dengan Semangat Santo Fransiskus Assisi Kita Senantiasa Memelihara Alam PKN” panitia menggelar sejumlah kegiatan selama tiga hari (2-4/10).  Kegiatan diawali dengan pertandingan olahraga, para  Pastor, Bruder, Frater,Suster, guru, dan karyawan dibagi dalam empat tim dengan sistim setengah kompetisi. Adapun cabang olahraga yang diperlombakan meliputi Sepak Bola , Badminton, dan Tenis Meja.
Sementara itu, para siswa-siswi baik tingkat Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa TOPANG mempertandingkan/perlombaan, berupa lomba memasak, vokal group, olahraga, dan lintas alam.





"Selain kegiatan olahraga,diadakan  acara pentas seni dan budaya sebagai ajang kreasi dalam mengembangkan bakat dan minat sebagai salah satu produk unggulan Ekstrakurikuler di Persekolahan  Katolik Nyarumkop. Seluruh  kegiatan dalam perayaan pelindung PKN merupakan ajang pengikat tali persaudaraan antar unit kerja. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan perayaan tahunan ini Persekolahan Katolik Nyarumkop  tidak ada pembedaan status unit kerja,  baik guru, karyawan, dan para siswa/siswi semuanya membaur. “Kita Satu, Barage Diri’ Bisa “ ungkap Natalis Baen selaku katua panitia.
Sebagai acara Puncak Pesta Pelindung Persekolahan ini, Misa Syukur dipimpin oleh Pastor Fidelis, OFM Cap., dalam homilinya mengajak Keluarga Besar Persekolahan Katolik untuk selalu meneladani karakter dan teladan Santo Fransiskus Assi sebagai Kasih kepada semua makhluk ciptaan Ilahi dalam Keagungan Tuhan.



Setelah misa, acara dilanjutkan dengan Napak Tilas Lintas Alam Santo Fransiskus Assisi ditutup dengan makan siang bersama di Sungai Sekabu. (A. Oyent)

Sabtu, 30 September 2017

NAPAK TILAS RUMAH SAKIT KUSTA ALVERNO, SINGKAWANG




Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1911 menganjurkan kepada Gereja Katolik (Missie Katolik) untuk memberikan perhatian dan pelayanan kesehatan kepada para penderita penyakit kusta di Kalimantan Barat, khususnya di Singkawang dan sekitarnya, karena di daerah ini ditemukan penderita penyakit tersebut. Atas anjuran itu maka Vikaris Apostolik Pontianak yakni Mgr.Bos meminta kepada Suster-Suster Misionaris yang bergerak/bekerja di bidang kesehatan untuk menindaklanjutinya.

Tahun 1912 para penderita kusta yang berada di Pontianak dikumpulkan dan dikirim ke sebuah kamp dekat Singkawang. Pernah ada ide mereka merasa diasingkan di sebuah pulau yang tak berpenghuni di depan Teluk Suak. Namun baru satu malam mereka sudah melarikan diri dengan menggunakan perahu, karena mereka merasa tidak suka. Setelah itu para penderita ini tersebar ke berbagai daerah. Masyarakat merasa resah atas keberadaan mereka itu. 





Pihak misionaris bergerak untuk mengumpulkan mereka dan menampung mereka di kaki Gunung Sari kurang lebih 1,5 km sebelah selatan Singkawang. Pada tahun 1914 dibangunlah beberapa rumah sederhana untuk para penderita dan sebuah kapel kecil dengan biaya Missi, selanjutnya pada tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda membantu.

Pada tahun itu juga datanglah seorang suster dari negeri Belanda yaitu Suster Cajetana van Tiel ke Singkawang. Suster Cajetana van Tiel adalah seorang suster perawat penyakit kusta. Semenjak kedatangannya langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada penderita penyakit kusta. Setiap hari Suster berjalan kaki selama 20 menit dari rumah susteran ke kamp penderita kusta dengan membawa bekal  untuk merawat mereka hingga malam. Begitulah pelayanan Suster Cajetana van Tiel selama bertahun-tahun tanpa mengenal lelah.

Pada tahun 1925 Vikaris Apostolik Pontianak yakni Mgr.Bos membangun beberapa unit pemukiman dan rumah sakit sederhana dengan berlantai semen, dinding papan serta atap daun. Bersamaan dengan itu dibangun pula rumah suster dengan nama “Susteran Leproserie Alverna”. Bangunan-bangunan tersebut selesai dan mulai difungsikan pada tanggal 17 November 1925. Kompleks di kaki Gunung Sari itulah kini berkembang menjadi kompleks Rumah Sakit Kusta Alverno, dan tanggal 17 November diperingati sebagai hari jadinya. 


Pada perkembangan selanjutnya datang lagi 2 orang suster dari negeri Belanda untuk membantu Suster Cajetana van Tiel yakni Suster Achilla dan Suster Wilhelmia. Kemudian karya tersebut diteruskan oleh Suster Theodrina dan menyusul Suster Merrie Bernard. Demikianlah Rumah Sakit Kusta Alverno berdiri dan berkembang dalam pelayanan maupun fasilitas, sarana dan prasarananya yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab Vikariat Apostolik Pontianak.
Pada awal-awal kemerdekaan Pemerintah Indonesia belum mampu membangun rumah sakit pemerintah yang baru untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Kalimantan Barat. Berdasarkan keadaan tersebut pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan kerja sama dengan Vikariat Apostolik Pontianak dalam pengelolaan rumah sakit-rumah sakit milik misi katolik yang berada di Kalimantan Barat antara lain Rumah Sakit Sungai Jawi-Pontianak, Rumah Sakit Santa Elisabeth-Sambas, Rumah Sakit Santo Vincentius-Singkawang, Poli Klinik Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno- Singkawang.  Sebagai bentuk kerjasama tersebut maka pada 27 Oktober 1954 diterbitkan Surat Perjanjian dengan Akte Notaris No. 189 yang ditandatangani oleh Lie Kiat Teng dari Kementrian Kesehatan RI dan Mgr. Van  Valenberg dari  Vikariat Apostolik Pontianak pemilik Rumah Sakit.

Dengan demikian Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang secara operasinal menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kepemilikan rumah sakit tersebut adalah Vikariat Apostolik (sekarang Keuskupan Agung) Pontianak. Semenjak itulah pemerintah memberikan subsidi  berupa biaya operasional, sarana dan prasarana, tenaga medis, paramedis, serta biaya pemeliharaan, walaupun masih belum mencukupi.

Oleh karena itu pihak Keuskupan Agung Pontianak masih harus menyediakan tenaga paramedis dan non medis serta turut  berperan serta secara aktif dalam pendanaan baik secara rutin maupun dalam bentuk proyek. Sebagian dari rumah sakit tersebut kini pengelolaannya sudah dikembalikan kepada pemiliknya yaitu Keuskupan Agung Pontianak. Pada tahun 1990 dikembalikanlah Rumah Sakit Sungai Jawi, Pontianak yang kemudian berubah nama menjadi Rumah Sakit Santo Antonius, menyusul tahun 1993 Rumah Sakit Santo Vincentius, Singkawang dan terakhir tahun 1997 Rumah Sakit Santa Elisabeth, Sambas. Yang masih belum dikembalikan oleh pemerintah tinggal Poli Klinik Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno, Singkawang.

Semenjak berdirinya Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang hingga saat ini dalam memberikan perawatan dan pengobatannya kepada pasien tidak memungut biaya apapun. Kini pelayanan Rumah Sakit Kusta Alverno tidak sebatas memberi pengobatan dan perawatan kepada pasiennya tetapi lebih dari itu, pihak rumah sakit (bersama dengan Departemen Sosial) juga memberikan pemukiman dan bantuan penghidupan serta bantuan biaya sekolah anak-anak dari para penyandang kusta.

Pada 1985 bekerjasama dengan Departemen sosial, Rumah Sakit Kusta Alverno membangun pemukiman untuk eks penderita kusta di Desa Hok Lo Nam (Norio) yang kemudian sebagian berpindah ke Desa Pakunam mengingat lokasinya tidak layak huni dan tidak bisa untuk bercocok tanam. Sedangkan pemukiman di sekitar Rumah Sakit Kusta Alverno dan Roban adalah hasil usaha rumah sakit dengan bantuan para donatur yang bersedia membantu. Komplek pemukiman Roban dibangun mulai dari tahun 1956 dan terus bertambah. Pada tahun 1980/1981 mendapat bantuan dari Canada. Komplek pemukiman bagi penderita kusta kini tersebar dalam 4 lokasi yaitu di : Sekitar Rumah Sakit (± 9 hektar), Roban, Pakunam (± 10 hektar), dan Hok Lo Nam.

Program-program pemerintah yang menyangkut pelayanan dan peningkatan kesehatan masyarakat juga banyak menyentuh keberadaan dan kegiatan rumah sakit ini. Mulai tahun 1993 hingga sekarang mendapat bantuan dana Operasional Pemeliharan Rumah Sakit (OPRS) dari pemerintah yang dipergunakan untuk rehabilitasi gedung, menambah pengadaan / perawatan sarana lain serta penyuluhan tentang penyakit kusta. Departemen Tenaga Kerja juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi eks penderita kusta di antaranya kursus menjahit, mengelas, pertukangan, dan perbengkelan.

Pada 22 Agustus 1980 Rumah Sakit ini telah melakukan operasi rekonstruksi pada kaki, tangan, dan mata dengan bantuan Dr. Berbudi dari Rumah sakit Kusta Sitanala, Tangerang. Operasi rekonstruksi ini terus berlanjut. Dr. Berbudi melakukan operasi sebanyak 5 kali kemudian diteruskan Dr. Tumada sebanyak 6 kali hingga tahun 1985. Mulai tahun 1985 Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang berada di bawah binaan Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Sumatera Selatan. Sehingga sejak itu tenaga dokter ahli yang membantu operasi berasal dari Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Sumatera Selatan. Dokter-dokter tersebut adalah Dr. Rivai Abd. (+), Dr. Nazaruddin, Dr. Syaiful Anwar Hadi ( 8 kali melakukan operasi ), Dr. Hasneimah, Dr. Liana Meilan, Dr. Taufik, Dr. Zaki Mabarat (4 kali melakukan operasi ), Dr. Andry M.T.Lubis sampai dengan tahun 1998. Pada tahun 1999 dan 2000 operasi konstruktif ditangani oleh Dr. Syaiful Anwar Hadi yang berdomisili di Jakarta.

Dalam perjalanannya Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang mendapat perhatian dan sumbangan baik berbentuk tenaga, dana, sarana dan prasarana serta pemikiran dan pembinaan kerohanian dari berbagai pihak. Untuk itu pantaslah Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, yakni: pemerintah, para dokter, donatur, dan semua pihak yang peduli dengan penderita kusta. (A.Oyent)

Sumber: buku kenangan 75 tahun RSK Alverno.