Pemerintah Kerajaan Belanda pada
tahun 1911 menganjurkan kepada Gereja Katolik (Missie Katolik) untuk
memberikan perhatian dan pelayanan kesehatan kepada para penderita penyakit
kusta di Kalimantan Barat, khususnya di Singkawang dan sekitarnya, karena di
daerah ini ditemukan penderita penyakit tersebut. Atas anjuran itu maka Vikaris
Apostolik Pontianak yakni Mgr.Bos meminta kepada Suster-Suster Misionaris yang
bergerak/bekerja di bidang kesehatan untuk menindaklanjutinya.
Tahun 1912 para penderita kusta
yang berada di Pontianak dikumpulkan dan dikirim ke sebuah kamp dekat
Singkawang. Pernah ada ide mereka merasa diasingkan di sebuah pulau yang tak
berpenghuni di depan Teluk Suak. Namun baru satu malam mereka sudah melarikan
diri dengan menggunakan perahu, karena mereka merasa tidak suka. Setelah itu
para penderita ini tersebar ke berbagai daerah. Masyarakat merasa resah atas
keberadaan mereka itu.
Pihak misionaris bergerak untuk
mengumpulkan mereka dan menampung mereka di kaki Gunung Sari kurang lebih 1,5
km sebelah selatan Singkawang. Pada tahun 1914 dibangunlah beberapa rumah
sederhana untuk para penderita dan sebuah kapel kecil dengan biaya Missi,
selanjutnya pada tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda membantu.
Pada tahun itu juga datanglah
seorang suster dari negeri Belanda yaitu Suster Cajetana van Tiel ke
Singkawang. Suster Cajetana van Tiel adalah seorang suster perawat penyakit
kusta. Semenjak kedatangannya langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada
penderita penyakit kusta. Setiap hari Suster berjalan kaki selama 20 menit dari
rumah susteran ke kamp penderita kusta dengan membawa bekal untuk merawat
mereka hingga malam. Begitulah pelayanan Suster Cajetana van Tiel selama
bertahun-tahun tanpa mengenal lelah.
Pada tahun
1925 Vikaris Apostolik Pontianak yakni Mgr.Bos membangun beberapa unit
pemukiman dan rumah sakit sederhana dengan berlantai semen, dinding papan serta
atap daun. Bersamaan dengan itu dibangun pula rumah suster dengan nama
“Susteran Leproserie Alverna”. Bangunan-bangunan tersebut selesai dan mulai
difungsikan pada tanggal 17 November 1925. Kompleks di kaki Gunung Sari itulah
kini berkembang menjadi kompleks Rumah Sakit Kusta Alverno, dan tanggal 17
November diperingati sebagai hari jadinya.
Pada perkembangan selanjutnya
datang lagi 2 orang suster dari negeri Belanda untuk membantu Suster Cajetana
van Tiel yakni Suster Achilla dan Suster Wilhelmia. Kemudian karya tersebut
diteruskan oleh Suster Theodrina dan menyusul Suster Merrie Bernard.
Demikianlah Rumah Sakit Kusta Alverno berdiri dan berkembang dalam pelayanan
maupun fasilitas, sarana dan prasarananya yang sepenuhnya menjadi tanggung
jawab Vikariat Apostolik Pontianak.
Pada awal-awal kemerdekaan
Pemerintah Indonesia belum mampu membangun rumah sakit pemerintah yang baru
untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Kalimantan Barat.
Berdasarkan keadaan tersebut pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia mengadakan kerja sama dengan Vikariat Apostolik Pontianak
dalam pengelolaan rumah sakit-rumah sakit milik misi katolik yang berada di
Kalimantan Barat antara lain Rumah Sakit Sungai Jawi-Pontianak, Rumah Sakit
Santa Elisabeth-Sambas, Rumah Sakit Santo Vincentius-Singkawang, Poli Klinik
Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno- Singkawang. Sebagai bentuk
kerjasama tersebut maka pada 27 Oktober 1954 diterbitkan Surat Perjanjian dengan
Akte Notaris No. 189 yang ditandatangani oleh Lie Kiat Teng dari Kementrian
Kesehatan RI dan Mgr. Van Valenberg dari Vikariat Apostolik
Pontianak pemilik Rumah Sakit.
Dengan demikian Rumah Sakit Kusta
Alverno Singkawang secara operasinal menjadi tanggung jawab pemerintah, namun
kepemilikan rumah sakit tersebut adalah Vikariat Apostolik (sekarang Keuskupan
Agung) Pontianak. Semenjak itulah pemerintah memberikan subsidi berupa
biaya operasional, sarana dan prasarana, tenaga medis, paramedis, serta biaya
pemeliharaan, walaupun masih belum mencukupi.
Oleh karena itu pihak Keuskupan
Agung Pontianak masih harus menyediakan tenaga paramedis dan non medis serta
turut berperan serta secara aktif dalam pendanaan baik secara rutin
maupun dalam bentuk proyek. Sebagian dari rumah sakit tersebut kini
pengelolaannya sudah dikembalikan kepada pemiliknya yaitu Keuskupan Agung
Pontianak. Pada tahun 1990 dikembalikanlah Rumah Sakit Sungai Jawi, Pontianak
yang kemudian berubah nama menjadi Rumah Sakit Santo Antonius, menyusul tahun
1993 Rumah Sakit Santo Vincentius, Singkawang dan terakhir tahun 1997 Rumah
Sakit Santa Elisabeth, Sambas. Yang masih belum dikembalikan oleh pemerintah
tinggal Poli Klinik Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno, Singkawang.
Semenjak berdirinya Rumah Sakit
Kusta Alverno Singkawang hingga saat ini dalam memberikan perawatan dan
pengobatannya kepada pasien tidak memungut biaya apapun. Kini pelayanan Rumah
Sakit Kusta Alverno tidak sebatas memberi pengobatan dan perawatan kepada
pasiennya tetapi lebih dari itu, pihak rumah sakit (bersama dengan Departemen
Sosial) juga memberikan pemukiman dan bantuan penghidupan serta bantuan biaya
sekolah anak-anak dari para penyandang kusta.
Pada 1985 bekerjasama dengan
Departemen sosial, Rumah Sakit Kusta Alverno membangun pemukiman untuk eks
penderita kusta di Desa Hok Lo Nam (Norio) yang kemudian sebagian berpindah ke
Desa Pakunam mengingat lokasinya tidak layak huni dan tidak bisa untuk bercocok
tanam. Sedangkan pemukiman di sekitar Rumah Sakit Kusta Alverno dan Roban
adalah hasil usaha rumah sakit dengan bantuan para donatur yang bersedia
membantu. Komplek pemukiman Roban dibangun mulai dari tahun 1956 dan terus
bertambah. Pada tahun 1980/1981 mendapat bantuan dari Canada. Komplek pemukiman
bagi penderita kusta kini tersebar dalam 4 lokasi yaitu di : Sekitar Rumah
Sakit (± 9 hektar), Roban, Pakunam (± 10 hektar), dan Hok Lo Nam.
Program-program pemerintah yang
menyangkut pelayanan dan peningkatan kesehatan masyarakat juga banyak menyentuh
keberadaan dan kegiatan rumah sakit ini. Mulai tahun 1993 hingga sekarang
mendapat bantuan dana Operasional Pemeliharan Rumah Sakit (OPRS) dari
pemerintah yang dipergunakan untuk rehabilitasi gedung, menambah pengadaan /
perawatan sarana lain serta penyuluhan tentang penyakit kusta. Departemen
Tenaga Kerja juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi eks
penderita kusta di antaranya kursus menjahit, mengelas, pertukangan, dan
perbengkelan.
Pada 22 Agustus 1980 Rumah Sakit
ini telah melakukan operasi rekonstruksi pada kaki, tangan, dan mata dengan
bantuan Dr. Berbudi dari Rumah sakit Kusta Sitanala, Tangerang. Operasi
rekonstruksi ini terus berlanjut. Dr. Berbudi melakukan operasi sebanyak 5 kali
kemudian diteruskan Dr. Tumada sebanyak 6 kali hingga tahun 1985. Mulai tahun
1985 Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang berada di bawah binaan Rumah Sakit
Kusta Sungai Kundur, Sumatera Selatan. Sehingga sejak itu tenaga dokter ahli
yang membantu operasi berasal dari Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Sumatera
Selatan. Dokter-dokter tersebut adalah Dr. Rivai Abd. (+), Dr. Nazaruddin, Dr.
Syaiful Anwar Hadi ( 8 kali melakukan operasi ), Dr. Hasneimah, Dr. Liana
Meilan, Dr. Taufik, Dr. Zaki Mabarat (4 kali melakukan operasi ), Dr. Andry
M.T.Lubis sampai dengan tahun 1998. Pada tahun 1999 dan 2000 operasi
konstruktif ditangani oleh Dr. Syaiful Anwar Hadi yang berdomisili di Jakarta.
Dalam perjalanannya Rumah Sakit
Kusta Alverno Singkawang mendapat perhatian dan sumbangan baik berbentuk
tenaga, dana, sarana dan prasarana serta pemikiran dan pembinaan kerohanian
dari berbagai pihak. Untuk itu pantaslah Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, yakni:
pemerintah, para dokter, donatur, dan semua pihak yang peduli dengan penderita
kusta. (A.Oyent)
Sumber: buku kenangan 75 tahun RSK Alverno.