Pertemanan semasa kanak-kanak hingga menjadi seorang pahlawan bagi diri maupun orang lain terlahir dengan ikatan bathin mendekati sempurna. Kanak-Kanak kelahiran semasa Orde Baru ini bergandengan tangan dalam persaudaraan secara harmoni dalam kenangan.
Usia tua semangat muda bahkan kami tertalu muda untuk dikatakan tua, seolah-olah raga bermimpi dalam uluran waktu tak berhenti berlari berpencar tak punya cinta. Kalau pun ada , itu hanya sebatas kosa kata saja.
Seribu cerita, bahasaku kalimat untuk mu...bara cerita tidak menjadi abu, kami bukan bahasa kalbu. Kurikulum berlembar kisah nyata, sakit dirasa sakit, senang terasa gembira, menangis bertetes makna, suka cita penuh pengharapan.
Surat Cinta Buat Cade Engkakal, surat tersirat tertulis PORINGU BEDOPAT. Surat terbuka kepada mereka yang punya cerita. 100 persen becutak 100 persen kisah, dan seratus persen lintas generasi.
yang berkolaborasi sosial sebagai satu saudara. Surat Cinta Buat Cade Engkakal Poringu Bedopat bermula dari rasa kerinduan untuk bertemu, berbisik untuk didengar berkata untuk berencana, berkehendak untuk bertemu. Dengan beberapa teman, kami menggagas pertemuan membahas bahasa Poringu Bedopat, walaupun tidak mudah layaknya sebuah drama...ada yang berkarakter Protagonis, Antogonis, dan Tirtagonis atas rencana ini. Lapangkan dada luaskan kehendak menuai kebaikan. Bukan susah tetapi payah untuk menulis surat cade Engkakal Poringu Bedopat. Mudah dengan kata-kata, payah membahasakannya.
Surat Cinta Untuk Cade Engkakal akhirnya bukan mimpi.Surat ini terbaca khalayak terkabar kegembiraan, kami rayakan dengan suka cita pada tutup tahun 2019 (31 Desember 2019) sebagai puncaknya, kami rayakan EMPURAI BERSAMA pada Tahun Baru 2020 di Riam Karot Sanggau.
Surat Cinta Untuk Cade Engkakal akan kami terbitkan pada tahun 2023, kami telah bersepakat untuk rencana ini.
Terima Kasih kepada Cade Engkakal serta simpatisan yang telah berkontribusi dalam acara Poringu Bedopat ini. Secara khusus kami haturkan terima kasih kepada Mgr. Agustinus Agus, sebagai sesepuh Cade Engkakal sebagai Pastor Paroki dikala itu. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bang Paolus Hadi, Om Yak, Bang Lesandri, Om Andoi, Bang Frans Kimin, Om Siwar, dan abang-abang dan Om-Om atas waktu berbagi kisah disini. *Oyent Andreas.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar