Fransiskus
memiliki pemahaman mendalam tentang kehadiran Ilahi dalam alam ciptaan.
Sebaliknya, kebanyakan dari umat manusia zaman modern telah kehilangan kepekaan
akan kehadiran Ilahi tersebut, dan kecenderungan mereka adalah merusak
lingkungan hidup. Industrialisasi memang merupakan suatu keharusan untuk
pembangunan ekonomi sebuah negara, namun proses ini harus disertai dengan sikap
dan perilaku yang tidak merugikan alam ciptaan. Laba tidaklah boleh menjadi
motif satu-satunya untuk berbisnis, karena perusahaan dan para pemiliknya
tidaklah hidup sendiri di atas bumi ini. Umat manusia di mana saja harus
berjuang melawan bencana alam dalam berbagai bentuknya, juga wabah penyakit
dll., namun perjuangan tersebut tidak boleh membuat manusia menjadi penindas
alam. Dengan bantuan teknologi yang cocok dan memadai, manusia dapat
memanfaatkan alam/lingkungan hidup tanpa harus merusak atau menghancurkannya.
Manusia harus sadar bahwa mereka tidak tinggal sendiri di atas muka bumi.
Lihatlah apa yang terjadi dengan orang-utan dan gajah Sumatera sekarang ini,
misalnya. Dramanya masih berlangsung dan sedang ditayangkan oleh beberapa
stasiun televisi internasional.
Luka-luka
atas alam ciptaan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia telah menggiring
dunia kepada krisis ekologi yang semakin mendalam dan semakin meluas. Krisis
ekologi yang tidak main-main ini, teristimewa sejak paruhan kedua abad ke-20
telah membuat komunitas-komunitas iman (gereja-gereja) menjadi bersikap kritis
terhadap tradisi dan praktek teologi selama ini. Kita harus bertanya kepada
diri kita sendiri bagaimana pandangan dunia dari Gereja berkontribusi terhadap
krisis yang semakin mendalam berkaitan dengan ecosystem. Dalam artian
tertentu, krisis ekologi yang dihadapi dunia berarti juga krisis di bidang
teologi bagi kita. Patut kita ketahui bahwa dokumen Konsili Vatikan II yang
berjudul “Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” tentang Gereja di Dunia
Dewasa ini” (7-12-65) juga luput membahas dan memberi pengarahan pastoral
tentang masalah lingkungan hidup. Sebagai Gereja, kita harus bergumul dengan
realitas menyakitkan bahwa teologi, kita, penyembahan kita, dan pelayanan kita
tidak hanya gagal untuk mempertahankan alam ciptaan, namun telah berkontribusi
terhadap eksploitasi dan penghancuran. Sekarang, petunjuk-petunjuk apa saja
kita miliki dari kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi berkaitan dengan relasi
yang benar antara manusia dan selebihnya dari ciptaan Allah? Jawaban Fransiskus
adalah “persaudaraan dengan segenap alam ciptaan”. Cukuplah bagi kita untuk
membaca “Gita Sang Surya” yang disusunnya dan dihayati juga olehnya secara
penuh dan total sepanjang hidupnya. Dalam kidungnya itu, Fransiskus bahkan
menyebut kematian sebagai saudarinya. (Catatan-catatan seorang Fransiskan Sekular)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar