Senin, 25 September 2017

Luka-luka Lingkungan Hidup yang Disebabkan Ulah Kita.


Fransiskus memiliki pemahaman mendalam tentang kehadiran Ilahi dalam alam ciptaan. Sebaliknya, kebanyakan dari umat manusia zaman modern telah kehilangan kepekaan akan kehadiran Ilahi tersebut, dan kecenderungan mereka adalah merusak lingkungan hidup. Industrialisasi memang merupakan suatu keharusan untuk pembangunan ekonomi sebuah negara, namun proses ini harus disertai dengan sikap dan perilaku yang tidak merugikan alam ciptaan. Laba tidaklah boleh menjadi motif satu-satunya untuk berbisnis, karena perusahaan dan para pemiliknya tidaklah hidup sendiri di atas bumi ini. Umat manusia di mana saja harus berjuang melawan bencana alam dalam berbagai bentuknya, juga wabah penyakit dll., namun perjuangan tersebut tidak boleh membuat manusia menjadi penindas alam. Dengan bantuan teknologi yang cocok dan memadai, manusia dapat memanfaatkan alam/lingkungan hidup tanpa harus merusak atau menghancurkannya. Manusia harus sadar bahwa mereka tidak tinggal sendiri di atas muka bumi. Lihatlah apa yang terjadi dengan orang-utan dan gajah Sumatera sekarang ini, misalnya. Dramanya masih berlangsung dan sedang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi internasional.









Luka-luka atas alam ciptaan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia telah menggiring dunia kepada krisis ekologi yang semakin mendalam dan semakin meluas. Krisis ekologi yang tidak main-main ini, teristimewa sejak paruhan kedua abad ke-20 telah membuat komunitas-komunitas iman (gereja-gereja) menjadi bersikap kritis terhadap tradisi dan praktek teologi selama ini. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri bagaimana pandangan dunia dari Gereja berkontribusi terhadap krisis yang semakin mendalam berkaitan dengan ecosystem. Dalam artian tertentu, krisis ekologi yang dihadapi dunia berarti juga krisis di bidang teologi bagi kita. Patut kita ketahui bahwa dokumen Konsili Vatikan II yang berjudul “Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” tentang Gereja di Dunia Dewasa ini” (7-12-65) juga luput membahas dan memberi pengarahan pastoral tentang masalah lingkungan hidup. Sebagai Gereja, kita harus bergumul dengan realitas menyakitkan bahwa teologi, kita, penyembahan kita, dan pelayanan kita tidak hanya gagal untuk mempertahankan alam ciptaan, namun telah berkontribusi terhadap eksploitasi dan penghancuran. Sekarang, petunjuk-petunjuk apa saja kita miliki dari kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi berkaitan dengan relasi yang benar antara manusia dan selebihnya dari ciptaan Allah? Jawaban Fransiskus adalah “persaudaraan dengan segenap alam ciptaan”. Cukuplah bagi kita untuk membaca “Gita Sang Surya” yang disusunnya dan dihayati juga olehnya secara penuh dan total sepanjang hidupnya. Dalam kidungnya itu, Fransiskus bahkan menyebut kematian sebagai saudarinya. (Catatan-catatan seorang Fransiskan Sekular)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar